Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

who are you?

Aku mendengar sesuatu, seperti suara langkah seseorang, pelan, mantap, dan semakin dekat. Aku pikir ini bukan jam sekolah, biasanya jarang sekali yang muncul di jam-jam ini untuk sekedar memasuki ruang luas, sesak dan pengap ini. Lagi pula siapa yang mau membaca buku buku usang seperti ini. Sepertinya bertahun-tahun sudah tak pernah ada yang menjamah. Lantas siapa orang tersebut, apa iya mang Dudun? Seingatku, Aku tadi sudah minta ijin, lagian sepertinya mang Dudun tidak pernah curiga saat aku sedang asik menikmati kesendirianku.

Aku berniat untuk menemui sumber suara tersebut, tapi belum sedetik niat itu terlaksana. Seeorang menepuk pundakku dengan mantap. "Hai, lo Delina Syifara kan?" kata seseorang di sana yang sontak membuatku bingung bukan kepalang. Selama dua tahun menyusuri sekolah ini, tidak pernah aku melihatnya, sekalipun tidak. Lantas siapa orang ini, seragamnya sama dengan yang ku gunakan, apa mungkin dia anak baru? Aku bahkan melupakan pertanyaanya karena batinku yang masih belum menemukan pemenang dalam perdebatan hangat antara ingatan dan logika. Sampai sampai semua yang orang itu katakan sudah seperti sorak sorai penyemangat pertandingan, semakin memanaskan pergulatan atas lamunanku.


Aku masih saja diam, asik dengan hayalanku sendiri, 2-5 menit aku masih tidak memedulikan seseorang yang sedari tadi sudah memasang tampang kebingungan. Tiba-tiba muncul ide untuk menemui guru BK dan menanyakan perihal seseorang yang ku temui ini. Akhirnya, tidak ada lagi sorak sorai gemuruh, tidak ada lagi sungut-sungut api perdebatan, semua sudah terpampang nyata, gamblang dan terang benderang. Tanpa berfikir panjang lagi aku berlari keluar dari ruang perpustakaan lama ini. Tanpa peduli dengan orang yang membuatku penasaran tadi, tanpa sepatah kata apapun dan tanpa menoleh sedikitpun.


Sesampainya di ruang BK, aku langsung menemui bu Mut, guru BK yang memang akrab sekali dengan ku. Aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu, tanpa kurang sedikit apapun, tanpa kurang sepatah kata apapun, bahkan tanpa kurang satu denyut nadi sekalipun. Bu Mut menyimak dengan seksama, bahkan tidak menghentikanku yang berbicara sepanjang rel kereta api yang tidak ada habisnya dan tidak ada jaraknya. Beliau sungguh cekatan dalam menjawab semua kegundahanku, sebelum benar benar menjawab, beliau menanyakan sesuatau hal yang kontan membuatku menjadi seseorang paling bodoh dan paling ceroboh seantero raya. "Kenapa tidak tanya orangnya langsung Delin? Bukankah lebih akurat dan tidak belibet? Ibu juga belum menerima kabar ada siswa pindahan. Mungkin itu adik kelas atau kakak kelas kamu jadi kamu tidak begitu familiar dengan wajahnya."


Sekali lagi aku terjun dalam jurang yang kugali sendiri. Betapa bodohnya. Aku lantas berterimakasih dan pamit pada Mut. Tancap gas penuh lalu berlari menuju perpustakaan tempat ku bertemu orang itu. Tapi sayang sepertinya dia sudah pergi. Karena kecewa, aku memutuskan bolos kelas dan berdiam diri saja di ruangan kesayangan ini. Tidak akan pernah ada yang mengusikku di sini, kecuali orang tadi, dia orang pertama yang masuk ruangan ini saat aku berada di dalamnya, sebelumnya? Tidak pernah ada kecuali suara mang Dudun yang hanya terdengar dari pinggiran pintu.


Aku terjebak dalam lamunan panjang, tiba-tiba... darrr.... orang itu lagi, sejak kapan dia sudah terduduk sila di sebelahku. Apa aku yang terlampau asik dengan lamunanku sampai-sampai tidak menyadari dia masuk ke dalam ruangan ini. Ah semua masih abu-abu, aku tidak mengenal dia, tapi dia bahkan sudah hafal nama lengkapku, alamat rumahku, dan kebiasaan ku di dalam perpustakaan ini. Sayang sekali setiap pertanyaan yang aku berikan tidak pernah mendapatkan sambutan yang hangat, selalu saja ia mengalihkannya pada pembicaraan yang lain. Tapi aku tidak terlalu mempermasalhkan hal itu. Hingga saatnya aku pulang pun aku sama sekali tidak berhasil mengorek informasi tentang dirinya.


Keesokan harinya sengaja aku keliling sekolah untuk mencarinya, tapi sayang tidak ada satupun wajah yang serupa dengannya. Jam istirahat hari ini aku harus menemui mang Dudun untuk menanyakan langsung perihal siswa misterius tersebut. Sekarang aku harus kembali ke kelas, mengikuti pelajaran yang sudah sering sekali aku tinggal..


Jam istirahat. Aku berlari seperti orang yang sedang di kejar-kejar anjing. Tidak karuan cepatnya. Tepat di depan pintu perpustakaan mang Dudun sudah menungguku, seperti biasa. Beliau sudah  hafal benar karena setiap hari, setiap jam istirahat pasti aku menyempatkan membaca buku-buku usang di dalam.


Hari ini aku sengaja tidak mau masuk ke dalam perpustakaan. Aku mengajak mang Dudun ke kantin untuk menanyakan semua gundah yang asik mengobak-abik pikiranku. Pertama aku menceritakan kronologis kejadian dari mulai bertemu sampai terakhir saat jam pulang sekolah, mang Dudun menyimakku bercerita tanpa jeda. sama persis seperti saat aku bercerita pada bu Mut. Aku terlampau antusias. Tapi mereka masih saja menyimak dengan seksama.


Mang Dudun seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia bercerita sepanjang ini.. "ohh.. mungkin yang eneng lihat itu kang Ardi, sewaktu sekolah di sini kang Ardi punya kebiasaan yang sama kaya neng Delin, suka menyendiri dan suka sekali dengan buku-buku lama. Dulu sebelum neng Delin masuk sekolah ini, kang Ardi yang selalu ngampiri perpustakaan lama itu, kalau dintanya kenapa gak ke ruang perpustakaan yang baru, selalu di jawab bukunya membosankan, sama kan kaya neng.. Tapi sayang sekali, tepat tanggal 17 Juli dua tahun lalu kang Ardi meninggal karena kecelakaan motor sewaktu pulang sekolah. Sejak itu perpustakaan lama tidak pernah di datangi satu orang pun, ruangannya jadi pengap karena tidak pernah di buka. Tapi semua berubah saat neng Delin sekolah di sini dan lari-lari nyari mang Dudun buat minta kunci perpustakaan lama. Kebiasaan neng sama persis kaya kang Ardi. Mungkin karena itu kang Ardi suka sama neng, nemenin neng biar gak sendirian di perpustakaan."


Dan aku hanya diam...................................

Jumat, 26 April 2013

note-book Adit

Kokok ayam pagi ini semakin mengusik pikiran gue. Memaksa gue buat membuka mata,  memaksa gue buat memandang silau sinar matahari di balik jendela. Memaksa gue buat mengingat realita dan melupakan mimpi indah gue tadi malam. Hari ini gue masih pengen tidur. Gue pengen menghindar dari satu per satu pikiran negatif yang berkelibatan di kepala dan sedikit melupakan beban pikiran yang menurut gue gak pernah ringan.

Hari ini gue punya janji buat nemenin si Tania, sahabat baik gue dari SMP. Sekarang kita udah jadi siswa kelas XI di SMA Bhayu Angkasa Malang. Dan kerennya, sejak SMP pihak sekolah selalu menempatkan kita dalam ruang yang sama, kelas yang sama. Itu juga yang jadi alasan kenapa gue bersahabat baik dengan Tania.

Derrtt..derrtt.. HP gue bunyi dan gue yakin pasti Tania udah nungguin gue. Tanpa perlu membaca apa pesan singkat yang dia kirim, gue langsung cus ke kamar mandi, dandan dan milih baju yang oke. Gak lama setelah itu, gue udah di pinggir jalan nyamperin Tania yang udah masang muka bete karna nungguin gue.

"Sorry Tan, gue baru bangun.. hehe.." Sapa gue.
"Yaudah yuk buruan, udah siang nih." Ajak Tania, sambil menggandeng tangan gue.

Hari ini Tania ngajakin gue beli kado buat pacar barunya, Adit, Aditya Nugraha yang ternyata adalah temen kecil gue dulu di Jakarta. Ntah sejak kapan dia tinggal di Malang dan mengenal Tania. Tapi yang pasti ketemu Adit di umur gue yang udah remaja ini, gak begitu ngaruh dengan ingatan masa kecil yang kocak dan ngangenin.

Gue kenal Adit udah dari kecil, karna kita emang tetangga. Tapi gue mesti pindah ke Malang saat gue baru masuk kelas VIII. Ayah gue mutasi dan pindah kerja ke Malang, terpaksa sekeluarga juga ikut pindah. Dan saat itulah gue kenal Tania. Dunia begitu sempit, dan sekarang gue bisa kumpul bareng sahabat-sahabat baik gue, Tania dan Adit.

"Tis, lo nglamunin apa sih?" ucap Tania yang sontak membuat gue kaget.
"Eh, nggak Tan, gue cuma lagi capek aja, lo sih ngajaknya pagi banget, gue masih ngantuk nih." jawab gue asal.
"Sorry deh Tis, lo tau sendiri kan sahabat lo lagi kasmaran. Hehe.." kata Tania yang tidak mendapat jawaban apapun dari gue. Gue masih gak habis pikir mereka bisa kenal, dan Tania berniat ngenalin gue sama Adit. Gue emang sengaja gak bilang ke Tania kalau kita udah saling kenal, gue takutnya Adit udah lupa sama gue. Secara gak sadar akhirnya gue selalu menghindar kalau Tania lagi bareng sama Adit.

Sepulang dari nemenin Tania, gue iseng bongkar barang-barang bawaan gue dari Jakarta yang masih terbungkus rapi sejak 4 tahun lalu. Gue mendadak inget note-book yang Adit kasih pas gue mau berangkat ke Malang. Tapi belum sempet nemuin note-book itu, Ayah udah teriak-teriak manggil gue dari lantai bawah. Terpaksa gue turun dan nyemperin beliau.


***

"Tisa Syafira?.... Tisa Syafira?" wali kelas gue udah sampai dan lagi mengabsen murid muridnya.
"Permisi. Hadir bu. Maaf bu saya terlambat, saya dari rumah Tania, ini surat izin Tania bu." buru buru gue masuk kelas. Untung wali kelas gue sekarang orangnya super sabar.

Hari ini gue bete banget di sekolah. Temen paling enak buat ngobrol, si Tania pake bolos segala cuma buat nyiapin surprise party buat Adit. Dan akhirnya gue di sekolah cuma nangkring di perpustakaan untuk sekedar baca novel atau cerpen ringan. Untung jam pelajaran hari ini di potong karna gurunya mesti rapat nyiapin Try Out kelas XII. Kan jadinya gue bisa pulang cepet dan gak bete lagi.

"Hey, lo Tisa kan?" ucap pemuda yang tiba tiba muncul di sebelah gue. Dia Adit, dan dia masih inget sama gue. Sontak kejadian ini bener-bener bikin gue speechless, gue tercengang dan gak bisa jawab apa-apa.
"Tis, Tisa?" kedua kalinya Adit manggil gue, dan gue masih diem, tercengang.
"Tis, lo gak inget sama gue? Gue Adit, temen lo dulu." Jelas pemuda tadi.
"Oh, hey, iya gue inget sama loe, masa iya gue lupa. haha" gue mencoba mencairkan suasana. "Lo ngapain disini? Dan sejak kapan lo di Malang? Sombong banget gak ngabarin gue." tanya gue berturut-turut.
"Haha sorry deh Tis, gue bingung mau ngabari lo, gue gak tau rumah lo dan gue gak tau nomor HP lo." Jawab Adit.
"Trus lo ngapain disini?" Tanya gue lagi. Sebenarnya gue bisa nebak dia ngapain, tapi gue cuma pengen memastikan aja.
"Gue mau njemput pacar gue Tis, eh, sorry lo gak tau ya, dia anak SMA sini, kita baru jadian sih, ntar kapan-kapan gue kenalin ke lo ya." Jelas Adit dengan gamblang dan girang. Tebakan gue bener, dia pasti mau nyamperin si Tania, bukan gue.

Sebelum gue pamit pulang ke Adit, kita udah sempet ngobrol banyak. Dan yang pasti kita udah tukeran alamat rumah dan nomor HP. Gue sempet ragu, karna Adit udah ketemu gue, gue takut dia bakal cerita ke Tania tentang -Tisa Syafira- yang sudah jelas adalah sahabat baiknya. Gue pasti bingung gue mesti jelasin apa ke Tania. Tuhan, ku harap Adit masih tutup mulut.

Sepulangnya di rumah, HP gue bunyi, telpon dari Tania. Gue sengaja gak angkat karna gue lagi males ngobrol sama dia mengingat kejadian ketemu Adit pulang sekolah tadi. Tapi ternyata Tania tidak sedikitpun menunjukkan keputus-asaannya menghubungi gue dan gue akhirnya terpaksa buat ngangkat. Tania cerita panjang lebar tentang kesuksesannya bikin surprise-party buat Adit. Gue lega, setidaknya Adit sama sekali tidak menceritakan masa lalunya ke Tania.

Munculnya Adit sukses buat gue berhari-hari ngegalau. Gue takut salah paham sama Tania. tapi gue juga ogah buat cerita tentang Adit ke Tania. Gue jadi inget sesuatu, note-book dari Adit. Gue berusaha beranjak dari kasur dan mulai bongkar muatan lagi. Yah barang-barang gue di Jakarta dulu. Gue udah nyoba buat bongkar semua isi kardus, tapi gue masih belum nemuin dimana note-book itu. Sejak 4 tahun lalu gue masih belum berani buat buka dan baca apa isi note-book Adit. Dan hari ini gue bener-bener di bikin penasaran.

Derrttt...dertt... HP gue bunyi. -Tis lo ngapain, bsk lo ada acara? jln yuk- Pesan singkat dari Adit. Gue lagi-lagi tercengang, jantung gue berdetak dua kali lebih cepat. satu jam berlalu gue masih belum nemuin jawaban yang pas buat sms Adit. Hingga akhirnya dia nelpon gue. dan gue setuju buat jalan sama dia.

Keesokan harinya gue beneran di jemput sama Adit. Kita jalan bareng, dan Adit banyak cerita tentang Tania. Sebenernya gue lega karna gue bisa jalan bareng sahabat karib gue. Tapi gue juga takut kalau Tania salah paham tentang ini. Akhirnya gue memberanikan diri buat cerita ke Adit perihal persahabatan gue dengan Tania. How shocked I am! Tanpa gue cerita pun Adit udah tau, apa Tania yang cerita? Gue bener-bener gak ngerti.

Ternyata setahun belakangan ini, semenjak pindah ke Malang, Adit gemar sekali mengorek informasi tentang gue. Dimana gue tinggal, dimana gue sekolah, dan dengan siapa gue bergaul, dia udah tau semua dan gue baru tau akhir-akhir ini kalau dia ada di Malang.

Adit bener-bener sosok yang gak gampang di tebak, persis seperti saat kita di Jakarta. Dia sama sekali tidak berubah. "Andai lo tau Dit gue disini ngangenin lo dan lo diem-diem merhatiin gue tanpa gue tau" ucap gue dalam hati.

***

Dirumah gue sengaja ngacak-ngacak kamar buat nyariin note-book dari Adit. Dan gue inget, note-book itu ada di lemari, di bawah tumpukan pakaian gue. Gue lega bisa nemu note-book ini. Awalnya gue ragu buat baca apa isi tulisan Adit. Tapi rasa penasaran gue telah mengalahkan semua.




Jkt, 12 Maret 2007
Dear Tisa,
Hay Tis, ini pertama kalinya gue nulis di note-book ini, note-book pemberian lo, kado ulang tahun gue dari lo. Thanks ya Tis. hehe.. Gue bakal banyak nulis Tis, karna disini gue bisa cerita apapun yang pengen gue ceritain ke lo tapi gak bisa gue ungkapin.



Jkt, 22 Oktober 2007
Dear Tisa,
Hari ini gue seneng banget Tis, thanks udah ngajakin gue jalan seharian. Gue emang cemen Tis, gue gak pernah berani buat bilang kalo gue suka sama lo. Tapi senggaknya gue selalu seneng karna kita bisa bareng terus sampe sekarang Tis. Tetaplah jadi sahabat gue.


Jkt, 24 Mei 2008
Dear Tisa,
Hari ini gue sedih banget Tis, kenapa lo mau ninggalin gue, kenapa lo mau pindah? Tis, bahkan gue masih belum bisa ngelepas predikat cemen gue, gue belum bilang ke lo kalo gue suka sama lo, sayang sama lo. Tis, jangan pernah anggep remeh tulisan gue. Ini bener-bener apa yang gue rasain. gak peduli lo mikir apapun, bahkan saat lo nganggep ini cuma ocehan anak kecil yang lagi cinta monyet. Lo inget ya Tis, ntar kalau kita bisa ketemu lagi, gue bakal tetep sayang sama lo, dan gue janji gue gak bakal cemen lagi. Lo baik-baik ya Tis di Malang.. Gonna miss you my friend :)



Lagi-lagi gue tercengang, gue kaget, tapi gue juga bingung. Apa maunya si Adit? Dan Adit bener, gue emang mikir itu cuma celotehan anak kecil yang lagi cinta monyet. Terang saja, Adit setahun ini nyari informasi tentang gue, tapi dia jadian sama sahabat gue sendiri. Gue bener-bener bingung. Gue memutuskan buat ngehubungi Adit, ngajakin dia jalan esok harinya. Dan Adit menyanggupi.

***

"Dit, sorry, gue baru baca note-book ini." tanpa pikir panjang gue langsung menuju ke topik pembicaraan yang pengen gue tanyain. "Lo masih inget kan? Harusnya gue baca ini dari dulu, ngabari lo kalo gue bakal nunggu waktu yang lo maksud itu. Tapi kayanya semua udah telat Dit, lo kayanya udah ngelupain, dan lo pasti sekarang udah bahagia sama Tania. Sorry Dit lo harus tau kalo gue juga sayang sama lo, dari dulu." jelas gue dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Adit masih diam, ia terlihat berfikir, tapi sulit untuk menebak apa isi pikirannya. Gue masih menunggu, menunggu apa jawaban yang akan di berikan Adit. dua-lima menit berlalu tanpa suara apapun. Gue mulai bingung, gue mulai gak tenang.

"Tis, lo jangan pernah nyalahin diri sendiri, ini semua bukan salah lo. Ini salah gue, harusnya gue bisa lebih sabar. Tapi semua berubah saat gue kenal Tania. Gue mulai suka, dan gue mulai putus asa buat ngumpulin keberanian ngungkapin perasaan ke lo Tis. Gue bodoh, gue bilang bener-bener sayang sama lo tapi gue gak bisa bertahan sama omongan gue. Tis, gue masih sayang sama lo, gue bener-bener sayang, lo boleh percaya boleh gak. Perasaan gue ke lo gak pernah berubah, yang berubah hanya keberanian gue. Mudah buat bilang kalo gue suka sama tania, tapi gak mudah buat bilang gue sayang sama lo Tis. Gue sayang sama lo dan gue bakal ngelakuin apapun buat nebus salah gue." jelas Adit.

"Dit, lo gak perlu ngelakuin apa-apa. Bahagiain Tania selayaknya lo bahagiain gue. Tania sahabat gue, gue gak bakal rela dia disakiti. Asal Tania bahagia gue juga pasti bahagia Dit. Selamat ya. Jangan pernah merasa bersalah. Kita tidak punya kuasa apapun buat menentang takdir. Semoga lo bahagia Dit, gue sayang sama lo." ucap gue ikhlas sembari meninggalkan Adit dan note-booknya.

Kamis, 28 Juni 2012

surat cinta sang dewi fortuna

Kokok ayam pagi ini terdengar begitu keras, memaksa gue buat bangun. sempat gue lirik jam dinding di kamar, tidak! gue pasti telat ke sekolah. gue mohon jangan lagi, sudah cukup sekali nama gue di permalukan gara gara telat. Gue dewi fortuna, entah kenapa kedua orangtua gue ngasih nama itu, mungkin mereka ingin gue selalu beruntung, dapet apa pun yang gue ingin. sama kayak nama sang dewi keberuntungan.

Tapi andai mereka tau, karna nama itu gue pernah ngerasa sangat malu, terang aja, sekali gue telat ke sekolah karna angkutan umum yang gue naiki mogok di tengah jalan, terpaksa gue masuk ruang piket dan nunggu satu jam pelajaran lagi biar bisa ngikut jam di kelas. karna gue jujur, gue tulis aja alasan itu di daftar siswa terlambat, dan dengan gamblangnya seorang siswa lain yang gak gue kenal, yang juga telat dan sedang menulis alasannya ngejek gue, "Dewi fortuna? sayang kenyataan tak seindah nama. beruntung apanya, telat aja karna angkot mogok."

Tak kuasa menahan malu, gue pun berlalu meninggalkan cowok gak jelas itu. pergi menuju kelas tercinta dan sejenak diam menunggu bel berbunyi. karna bosan, gue ngeluarin hp, memainkannya sejenak lalu memasukkannya lagi ke dalam tas, diam lagi. tiba tiba hp gue bergetar, ada 2 sms masuk, yang pertama dari agano, cowok gue, dia nanyain kenapa gue tak kunjung datang. dan yang kedua entah dari siapa, nomor tak di kenal, dan smsnya gak jelas, pasti dari cowok di ruang piket tadi. iseng banget, tau dari mana coba nomor hp gue.
*****
Kriiiiiiiiiiinggg!!! bel pulang sekolah berbunyi. gue dan agano menuju tempat parkir, dan segera enyah dari sekolah. sialnya, di tempat parkir gue ketemu lagi sama si cowok aneh, dan yang paling sial, dia dengan lantang manggil gue dengan sebutan dewi gak mujur. agano yang gak tau apa apa langsung menatap gue tajam, tatapan penuh tanya. tapi gue sengaja nggak mau jawab. dan gue maksa buat cepet pulang.

Sesampainya di rumah, agano yang terlihat badmood langsung pamit pulang. gue yang juga lagi badmood karna ulah cowok aneh tadi langsung mengiyakan. tapi setelah melihat agano pergi gue sedikit menyesal, kenapa juga agano jadi korban. semua karna cowok tadi. ahhh kayanya nasib gue emang gak seberuntung nama gue.

Derttt...derttt... hp gue bergetar, mungkin dari agano. tapi gue salah, ternyata dari nomor tadi pagi, karna penasaran gue balas sms itu, "siapa?" tak lama kemudian ada jawaban, "Satria Danang Sacharias Wardhana. cowok paling keren di SMA BanyuAji yang lo liat tadi pagi." cuiiiiih!! jawaban macam apa ini, dasar bener bener cowok aneh.
*****
Sore ini gue kedatangan tamu yang bener bener gak di harepin, Satria datang ke rumah gue. nih anak bener bener deh, baru sekali ketemu udah dapet nomor hp, dan udah berani dateng ke rumah. apa coba maunya. dengan sangat terpaksa gue nemuin dia, dan kita ngobrol panjang lebar, tapi yang sebenarnya gue cuma jadi pendengar. tapi karna seru mendengar semua celoteh satria, gue sedikit tertarik, dan mulai nyaman dengan sikap hangatnya.

Pukul 20.30 satria pamit pulang, gokil sih, dapet tamu orang aneh. hahha. gue balik ke kamar, ngecekin hp, ternyata ada 5 panggilan tak terjawab dan semua dari agano. astaga! gue bener bener ngerasa gak enak hati, gara gara satria gue lupa sama agano. gue langsung ngehubungi agano, tapi gak ada jawaban, akhirnya gue nekat ngehubungi nyokapnya agano, gue khawatir agano kenapa kenapa. dan emang bener, agano lagi sakit, dan nyokapnya minta besok pagi gue dateng ke rumahnya buat ambil surat ijin agano.

keesokan paginya, setelah dari rumah agano, gue langsung menuju ke sekolah. sedikit terburu buru sih, tapi untungnya gak telat. di gerbang ketemu sama satria, "kok gak bareng agano?"
"agano lagi sakit sat, ini surat ijinnya." jawab gue sembari pamit pergi menuju kelas.

Tepat bel pulang sekolah, satria udah nongol di depan kelas gue, "pulang bareng yuk, gue mau nunjukin sesuatu" ajak satria.
"gak ah, gue mau njenguk agano aja" jawab gue.
"cuma bentar" pinta satria. "ya udah" gue setuju.

Entah tempat apa ini namanya, tapi ini indah bangeet. satria bener bener bikin gue nyaman, ini bukan cuma sebentar. berjam jam kita berdua di tempat ini, cerita pengalaman pengalaman pribadi, bercanda, dan saling mencibir. karna udah sore, gue mutusin gak jadi ke rumah agano. sesampainya di rumah pasti gue langsung nelpon. itu sih yang ada di pikiran gue. tapi ternyata sesampainya di rumah gue terlalu lelah dan langsung terlelap.

Agano masih terbaring lemas, hari ini minggu, gue sengaja dateng ke rumah agano buat nemenin dia. lagi asik sama agano, hp gue getar terus. gue lihat ternyata satria sms, banyak banget, sengaja gak gue bales, tapi dia malah telpon, akhirnya gue angkat, kita ngobrol, lama banget. trus gue balik, ke kamar agano, "siapa? kok lama telponnya?" tanya agano. "temen kok, sorry keasikan ngobrol" jawab gue sekenanya.


hari udah sore, gue mutusin buat pulang, baru setengah perjalanan, satria telpon gue lagi. dia mau njemput gue, akhirnya gue iyain aja. gue sama satria gak langsung pulang, dia ngajakin gue makan dan jalan dulu. gue nyaman sama satria, kayanya gue mulai suka sama dia. di tempat kita makan, satria nekat bilang sayang ke gue, padahal uda jelas jelas gue punya cowok, gue seneng sih, satria bilang gitu, tapi gue juga mikir perasaan agano. gue sayang banget sama agano. gue cuma bisa diem, gak ngejawab apa apa, dan gue minta pulang.


keesokan harinya, di sekolah, gue curhat sama sahabat gue, dira, gue gak tau kenapa, tapi pas gue cerita semua tentang satria, dia langsung marah ke gue. dia gak suka kalo gue nyakitin agano. dan dira minta gue nyembunyiin semua ini dari agano, dan yang paling penting, gue harus ngejauhin satria. gue setuju, karna gue emang sayang sama agano. hari ini agano udah sembuh, dia udah sekolah lagi, dan tadi pagi, dia ngajakin gue jalan sepulang sekolah.


gue jalan ke mall sama agano, gue di ajakin makan dulu, gue seneng, jalan sama agano emang asik banget. dan yang bikin gue kaget, waktu gue lagi makan, agano tanya ke gue "kamu lagi deket sama siapa? beberapa hari ini kamu cuek banget." gue gak bisa jawab apa apa. gue cuma diem, ngelihat raut serius di muka agano. "jawab pliss" desak agano.
"emm.... aku kenal sama cowok, namanya satria, aku ketemu dia pas aku telat, dan masuk ruang piket...... awalnya dia sms aku, trus nekat dateng ke rumahku, dari situ kita jadi deket." jawab gue.
"pasti gak cuma itu, ada yang kamu sembunyiin dari aku kan?"
"gak ada, cuma itu."
"jangan bohong." gue cuma diem, gue bingung gue harus jawab apa. "jawab dong, jangan cuma diem kalo emang gak ada yang di sembunyiin." desak agano lagi.
"emm... maaf, satria u..uuda bilang sayang ke aku."
"ohh, trus mau kamu?"
"mauku gimana maksudnya? yaa... aku mau kamu, bukan satria."
"aku tau, itu sebabnya aku gak marah, makasih, aku sayang kamu."
"makasih ya" gue nangis denger ucapan agano. dia bener bener baik banget ke gue, dan gue yakin, cuma agano di hati gue.
*****
di sekolah gue sengaja nitip surat ke dira buat satria. gue emang suka sama dia, udah mulai sayang, tapi itu cuma kenyamanan sesaat. bukan perasaan lebih. gue cuma mau ngakuin itu. karna gue belum ngejawab apa apa pas satria bilang sayang ke gue. gue udah bahagia sama agano, gue gak mau ngerusak ini. gue yakin satria juga bakal bahagia. makasih udah buat hidup gue jadi menarik. lo cowok baik sat.

kala baskara perlahan keluar, menyerakkan sinarnya pada semua penghuni pertiwi yang tengah terlelap, memberikan isyarat seolah alarm yang berbunyi nyaring yang memaksa kita untuk terbangun, untuk membuka mata, dan untuk menatap sebuah kenyataan.
nyata, kala kencanamu terlambat sedetik tuk menjemputku,
aku telah menaiki kencana yang lain, kencana yang siap mengantarku ke peraduan bahagia.
sesal, mungkin juga terasa, tapi sia sia
semua berjalan bukan karna kesalahan, tapi karna kehendak Tuhan.

sepucuk  surat yang ku beri ini mungkin sebuah pertanda, pertanda keberuntungan tak memihak pada kita, sepucuk surat ini mungkin sebuah pengakuan, mengaku cinta tapi tak pantas tuk mengucap. sepucuk surat ini mungkin sebuah permintaan maaf, maaf atas segala lakuku, maaf atas rasa yang tercipta karnaku. sepucuk surat ini mungkin juga sebuah salam, aku tak menyebutnya perpisahan, tapi mungkin semacam itu. entahlah, aku tak dapat menggambarkannya.

ku mohon lepaskan, aku percaya kau bisa bahagia.

  Dewi~                        

Jumat, 06 Januari 2012

Cinta Itu Bukan Bola 
Oleh : Asri Surtayati

Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa.

Di sebuah kamar kost-an, aku duduk di atas tempat tidur. Tangan kananku memegang sebatang cokelat. Di tangan kiriku, aku memainkan sebuah permainan, di handphone kesayanganku.

“Tari, perasaan dari tadi pagi lo makan cokelat terus. Apa enggak takut gemuk?” tanya Wery, sambil berbaring di tempat tidur yang terletak di samping kanan tempat tidurku.

“Iya, gue heran deh sama Lestari. Padahal kalau makan cokelat enggak tanggung-tanggung. Sekali makan bisa habis dua batang. Tapi kenapa badan lo enggak gemuk sih?” Hanny yang dari tadi sibuk ber-SMS-an dengan Deni, pacarnya, ikut melibatkan diri dalam obrolan kami.

“Jangan-jangan lo muntahin lagi, ya?” timpa Wery, sebelum sempat aku menjawab pertanyaan dari mereka.

“Wah, jangan-jangan iya, nih. Lo bulemia ya?”


“Bulemia? Yang benar tuh, bulimia. Bukan bulemia. Makanya kalau punya kamus kedokteran itu dibuka-buka. Jangan disimpan aja,” ledek Wery, sambil tertawa terbahak-bahak.

Kami pun kemudian tertawa.

Begitulah suasana di kost-an bila malam tiba. Selalu ramai dengan canda tawa. Kata-kata yang Hanny dan Wery lontarkan, terkadang memang dalam. Tapi memang begitulah mereka. Ceplas-ceplos.

Untuk menanggapi mereka yang seperti itu, aku harus menganggap bahwa kata-kata yang mereka lontarkan itu tidak serius. Mereka hanya bercanda. Kalau aku mengganggap serius kata-kata mereka. Dijamin, aku enggak akan betah tinggal di kost-an.

“Eh, tapi benar enggak sih, kalau lo bulimia?” Henny masih penasaran.

“Ya, enggak lah. Ngapain juga gue harus muntahin makanan yang sudah gue makan. Kalau gue ngelakuin itu, bisa-bisa, dinding perut, usus, ginjal, gigi, semuanya rusak. Dan yang lebih parah, gue bisa meninggal karena kekurangan gizi. Mending gue meninggal karena dicium Fikri, dari pada gue meninggal karena kekurangan gizi,” aku yang sejak tadi bergeming, akhirnya menanggapi kata-kata mereka.

“Cieee... yang tadi pagi baru jadian. Omongannya enggak nahan.”

Tok... tok... tok....


Tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar.
Wery, yang bertugas piket hari ini, bangkit untuk membukakan pintu.

“Tari, gue mau curhat!” Laras, saudara kembarku, sudah berdiri di depan pintu kamar, padahal baru lima belas detik Wery membuka pintu. Laras kemudian langsung berlari ke arahku.

“Lo ke sini sama siapa? Sudah malam begini,” tanyaku, heran.

“Sendiri. Gue sengaja ke sini, mau curhat sama elo. Lagian, besok gue enggak ada jadwal kuliah. Jadi gue bisa nginep di sini.”
“Eh... enggak bisa, enggak bisa. Bertiga aja sudah sempit. Apalagi ditambah satu gajah.” Hanny protes.

“Teman lo keterlaluan banget, sih. Masa gue dibilang gajah. Lagian, kamar ini kan masih luas banget!” Laras marah.

“Hanny memang begitu. Udah, enggak usah di masukin ke hati. Cuekin aja. Kita pindah ke kamar sebelah aja, yuk.”

Aku dan Laras kemudian bergeras meninggalkan kamar yang ditempati Hanny dan Wary. Kami menuju kamar yang lain, yang terletak tidak jauh dari kamar mereka.

Di rumah yang kami kontrak ini, hanya mempunyai dua kamar. Satu kamar untuk tidur. Satu kamar lagi untuk lemari pakaian dan rak buku. Kami sengaja mengaturnya seperti itu. Karena yang tinggal di rumah ini bukan hanya dua orang. Melainkan tiga orang. Selain itu, agar kebersamaan dan kekeluargaan di antara kami lebih terasa.

Sesampainya di kamar, laras langsung merebahkan diri ke karpet, yang berada tepat di tengah-tengah deretan lemari. Aku yang memang sudah lelah, ikut berbaring di sampingnya.


“Tari, lo tahu enggak. Tadi pagi gue ketemu cowok, cakep banget. Rambutnya ikal, matanya cokelat, hidungnya mancung, senyumnya manis, terus di pipi kanannya ada tahi lalat. Pokoknya sempurna banget, deh. Gue suka sama dia.”

“Ketemu di mana? Namanya siapa?” tanyaku, antusias. Perasaan lelah itu hilang seketika, tergantikan olah semangat yang baru. Karena baru kali ini Laras menceritakan tentang perasaannya pada seorang pria. Baru kali ini dia jatuh cinta. Padahal usianya sudah hampir sembilan belas tahun.

“Gue ketemu dia waktu di toko buku. Namanya Fikri.”

“Siapa?!” tanyaku, tak percaya.

“Fikri. Fikri Adi Dinata. Kalau enggak salah, dia juga kuliah di kampus lo, di jurusan Kesehatan Masyarakat. Lo kenal?! Ih... salamin ya.”
Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa. Meskipun begitu, aku tidak ingin mengecewakan Laras. Aku tetap mendengarkan cerita tentang pertemuannya dengan Fikri. Tak tega rasanya membuatnya kecewa. Ia begitu bersemangat, begitu bahagia.

Aku benar-benar bingung sekarang. Aku harus bagaimana?! Laras ternyata mencintai Fikri, pacarku sendiri. Ini bukan salahnya, karena dia tidak pernah mengetahui bahwa aku dan Fikri, sebenarnya pacaran. Ini adalah kesalahanku sepenuhnya, karena aku tidak pernah memberi tahu Laras. Tapi aku tidak tega menghancurkan perasaannya. Cinta pertamanya!
***

“Fikri, hari ini kamu masih ada jam kuliah enggak?”

“Enggak ada. Memang ada apa?”

“Aku ingin ke pantai. Kamu mau menemaniku?”

“Untuk kamu, apa sih yang enggak?”

“Ya sudah. Berangkat, yuk.”

“Oke.”

RX King milik Fikri melaju dengan kencang. Membelah jalanan Kota Baja yang penuh debu.

Semilir angin pantai menerpa wajah tirusku, yang terduduk bagai di hamparan lautan es kim. Rambut ikal bergelombang menari mengikuti arah angin berhembus. Lenganku memeluk lutut. Pandanganku lurus ke garis horizontal.

Fikri duduk di samping kiriku. Kedua kakinya diluruskan. Tangannya meremas butir-butir pasir yang ada di samping kanan dan kirinya. Selama beberapa saat kami terdiam. Hanya suara debur ombak yang terdengar.


“Tari, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?” tanya Fikri, tiba-tiba. Ia seakan merasakan ada sesuatu yang kusembunyikan.

Aku bangkit, kemudian berseru, “Fikri, aku ingin bermain dengan ombak.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Fikri kemudian menggenggam dengan lembut tanganku. Aku menatapnya. Mataku dan matanya saling beradu. Ada kepedihan di hatiku.

Aku melepaskan genggaman Fikri. Dengan gontai aku melangkah, mendekati riak ombak yang menjilati hamparan es krim itu. Fikri menyejajarkan langkahnya dengan langkahku.
Aku hentikan langkahku, saat ombak yang menerjang kakiku semakin kuat. Fikri masih berada di sampingku.

“Sayang, kamu kenapa? Pasti ada sesuatu hal yang ingin kamu katakan padaku.”

“Fikri, kita adu lari, yuk. Sampai tembok pembatas itu ya,” untuk kedua kalinya aku mengalihkan pembicaraan.

“Oke. Tapi kalau kamu kalah, kamu harus mengatakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan.”

Setelah aku merasa letih, aku kemudian berhenti dan berbalik. Ternyata aku sudah jauh meninggalkan Fikri, yang memang tidak ikut berlari. Masih dengan nafas tersengal-sengal, aku kembali berlari ke arah Fikri. Aku merasakan beban di hatiku kini sedikit berkurang.

“Kamu curang,” seruku, masih dengan tersengal-sengal.

“Kamu larinya semangat banget, sih. Jadi aku enggak bisa menyusul deh,” jawab Fikri, sekenanya.

Aku kemudian terdiam. Pandanganku kembali tertuju ke garis horizontal. Namun kini, sebuah senyuman mengembang dari bibir tipisku. Perasaanku lebih tenang.

“Sayang, sebenarnya ada apa sih?”.


“Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Hanya bersamamu, hari ini,” jawabku. Pandanganku masih tertuju ke garis horizontal.

Fikri kemudian tersenyum, sambil berkata, “Aku pikir kamu mau cerita sesuatu. Karena kamu selalu mengajak aku ke pantai, kalau mau cerita sesuatu.”

“Masa, sih?”

“Bukannya iya?”

Kami pun bercanda dan tertawa. Menghabiskan hari ini bersama. Berdua, di tepi pantai. Kami bercanda dan tertawa, hingga senja berada di ufuk barat.
***

Kala senja berada di ufuk Barat, tepat berada di tengah garis horizontal, aku mengatakan, “Fikri, aku sudah memutuskan bahwa aku enggak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku enggak bisa pacaran sama kamu. Ada seseorang yang lebih pantas untukmu.”
“Maksud kamu apa?!”

Aku kemudian menarik nafas, dalam dan panjang. Menghembuskannya perlahan. Aku berusaha untuk tersenyum, meskipun hatiku terluka. Sama seperti yang Fikri rasakan saat ini.

“Aku sudah terlalu sering menyakitimu. Aku tidak berhak mendapatkan cintamu. Kamu berhak mendapatkan wanita lain yang lebih baik dariku. Dia adalah Laras.”

“Laras?! Saudara kembarmu? Lestari, cinta itu bukan bola, yang bisa kamu oper sesuka hatimu. Sekalipun, kepada saudara kembarmu!” Fikri marah besar.

Hatiku semakin terluka. Aku menyadari, bahwa cinta memang bukanlah sebuah bola. Tapi demi kebahagiaan Laras, aku berharap, cintamu padaku seperti halnya sebuah bola. Sehingga cinta itu bisa dioper kepada Laras. Dan membuatnya bahagia.