Rabu, 10 Juli 2013

who are you?

Aku mendengar sesuatu, seperti suara langkah seseorang, pelan, mantap, dan semakin dekat. Aku pikir ini bukan jam sekolah, biasanya jarang sekali yang muncul di jam-jam ini untuk sekedar memasuki ruang luas, sesak dan pengap ini. Lagi pula siapa yang mau membaca buku buku usang seperti ini. Sepertinya bertahun-tahun sudah tak pernah ada yang menjamah. Lantas siapa orang tersebut, apa iya mang Dudun? Seingatku, Aku tadi sudah minta ijin, lagian sepertinya mang Dudun tidak pernah curiga saat aku sedang asik menikmati kesendirianku.

Aku berniat untuk menemui sumber suara tersebut, tapi belum sedetik niat itu terlaksana. Seeorang menepuk pundakku dengan mantap. "Hai, lo Delina Syifara kan?" kata seseorang di sana yang sontak membuatku bingung bukan kepalang. Selama dua tahun menyusuri sekolah ini, tidak pernah aku melihatnya, sekalipun tidak. Lantas siapa orang ini, seragamnya sama dengan yang ku gunakan, apa mungkin dia anak baru? Aku bahkan melupakan pertanyaanya karena batinku yang masih belum menemukan pemenang dalam perdebatan hangat antara ingatan dan logika. Sampai sampai semua yang orang itu katakan sudah seperti sorak sorai penyemangat pertandingan, semakin memanaskan pergulatan atas lamunanku.


Aku masih saja diam, asik dengan hayalanku sendiri, 2-5 menit aku masih tidak memedulikan seseorang yang sedari tadi sudah memasang tampang kebingungan. Tiba-tiba muncul ide untuk menemui guru BK dan menanyakan perihal seseorang yang ku temui ini. Akhirnya, tidak ada lagi sorak sorai gemuruh, tidak ada lagi sungut-sungut api perdebatan, semua sudah terpampang nyata, gamblang dan terang benderang. Tanpa berfikir panjang lagi aku berlari keluar dari ruang perpustakaan lama ini. Tanpa peduli dengan orang yang membuatku penasaran tadi, tanpa sepatah kata apapun dan tanpa menoleh sedikitpun.


Sesampainya di ruang BK, aku langsung menemui bu Mut, guru BK yang memang akrab sekali dengan ku. Aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu, tanpa kurang sedikit apapun, tanpa kurang sepatah kata apapun, bahkan tanpa kurang satu denyut nadi sekalipun. Bu Mut menyimak dengan seksama, bahkan tidak menghentikanku yang berbicara sepanjang rel kereta api yang tidak ada habisnya dan tidak ada jaraknya. Beliau sungguh cekatan dalam menjawab semua kegundahanku, sebelum benar benar menjawab, beliau menanyakan sesuatau hal yang kontan membuatku menjadi seseorang paling bodoh dan paling ceroboh seantero raya. "Kenapa tidak tanya orangnya langsung Delin? Bukankah lebih akurat dan tidak belibet? Ibu juga belum menerima kabar ada siswa pindahan. Mungkin itu adik kelas atau kakak kelas kamu jadi kamu tidak begitu familiar dengan wajahnya."


Sekali lagi aku terjun dalam jurang yang kugali sendiri. Betapa bodohnya. Aku lantas berterimakasih dan pamit pada Mut. Tancap gas penuh lalu berlari menuju perpustakaan tempat ku bertemu orang itu. Tapi sayang sepertinya dia sudah pergi. Karena kecewa, aku memutuskan bolos kelas dan berdiam diri saja di ruangan kesayangan ini. Tidak akan pernah ada yang mengusikku di sini, kecuali orang tadi, dia orang pertama yang masuk ruangan ini saat aku berada di dalamnya, sebelumnya? Tidak pernah ada kecuali suara mang Dudun yang hanya terdengar dari pinggiran pintu.


Aku terjebak dalam lamunan panjang, tiba-tiba... darrr.... orang itu lagi, sejak kapan dia sudah terduduk sila di sebelahku. Apa aku yang terlampau asik dengan lamunanku sampai-sampai tidak menyadari dia masuk ke dalam ruangan ini. Ah semua masih abu-abu, aku tidak mengenal dia, tapi dia bahkan sudah hafal nama lengkapku, alamat rumahku, dan kebiasaan ku di dalam perpustakaan ini. Sayang sekali setiap pertanyaan yang aku berikan tidak pernah mendapatkan sambutan yang hangat, selalu saja ia mengalihkannya pada pembicaraan yang lain. Tapi aku tidak terlalu mempermasalhkan hal itu. Hingga saatnya aku pulang pun aku sama sekali tidak berhasil mengorek informasi tentang dirinya.


Keesokan harinya sengaja aku keliling sekolah untuk mencarinya, tapi sayang tidak ada satupun wajah yang serupa dengannya. Jam istirahat hari ini aku harus menemui mang Dudun untuk menanyakan langsung perihal siswa misterius tersebut. Sekarang aku harus kembali ke kelas, mengikuti pelajaran yang sudah sering sekali aku tinggal..


Jam istirahat. Aku berlari seperti orang yang sedang di kejar-kejar anjing. Tidak karuan cepatnya. Tepat di depan pintu perpustakaan mang Dudun sudah menungguku, seperti biasa. Beliau sudah  hafal benar karena setiap hari, setiap jam istirahat pasti aku menyempatkan membaca buku-buku usang di dalam.


Hari ini aku sengaja tidak mau masuk ke dalam perpustakaan. Aku mengajak mang Dudun ke kantin untuk menanyakan semua gundah yang asik mengobak-abik pikiranku. Pertama aku menceritakan kronologis kejadian dari mulai bertemu sampai terakhir saat jam pulang sekolah, mang Dudun menyimakku bercerita tanpa jeda. sama persis seperti saat aku bercerita pada bu Mut. Aku terlampau antusias. Tapi mereka masih saja menyimak dengan seksama.


Mang Dudun seperti mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia bercerita sepanjang ini.. "ohh.. mungkin yang eneng lihat itu kang Ardi, sewaktu sekolah di sini kang Ardi punya kebiasaan yang sama kaya neng Delin, suka menyendiri dan suka sekali dengan buku-buku lama. Dulu sebelum neng Delin masuk sekolah ini, kang Ardi yang selalu ngampiri perpustakaan lama itu, kalau dintanya kenapa gak ke ruang perpustakaan yang baru, selalu di jawab bukunya membosankan, sama kan kaya neng.. Tapi sayang sekali, tepat tanggal 17 Juli dua tahun lalu kang Ardi meninggal karena kecelakaan motor sewaktu pulang sekolah. Sejak itu perpustakaan lama tidak pernah di datangi satu orang pun, ruangannya jadi pengap karena tidak pernah di buka. Tapi semua berubah saat neng Delin sekolah di sini dan lari-lari nyari mang Dudun buat minta kunci perpustakaan lama. Kebiasaan neng sama persis kaya kang Ardi. Mungkin karena itu kang Ardi suka sama neng, nemenin neng biar gak sendirian di perpustakaan."


Dan aku hanya diam...................................

Sabtu, 25 Mei 2013

teruntuk kesekian kalinya..

hai guys :) gue balik lagi nih sama dunia nulis gue.. gue emang bukan penulis yang handal, gue juga gak berkeinginan jadi penulis penulis terkenal. tapi jelas gak salah kan kalo gue suka nulis, lewat nulis gue bisa lebih tenang, gue bisa ngeluapin apa yang jadi pikiran gue, lewat nulis juga gue bisa lepas ngeluarin beban gue.. dan kali ini, curhatan ngasal gue, yang intinya tetap ini ini aja, tetep galau galau aja, cekidot, eh salah, check it out :p

teruntuk kesekian kalinya..

teruntuk kamu, yang entah kemana harus ku cari

teruntuk kamu, yang entah dengan apa ku pastikan
teruntuk kamu, yang entah seberapa lama ku lalui
pantaskah masih di sebut cinta?
pantaskah masih di perjuangkan?
pantaskah ia bertahan di atas tangisan
ah, sudah lupakan saja semua yang pantas di lupakan
bukankah bahagia itu pilihan?
lantas kenapa harus berlarut larut dalam kesedihan..
lantas kenapa masih saja di perbudak perasaan..
sudahlah, hilang semua gairah
terlalu muak aku dengan semua ini..
enyah saja, semua akan membaik

udah segitu aja.. males gue berlarut larut dalam galau, nyiksa dan gak enak banget..
dan buat "kamu" tunggu aja, keputusan gue udah bulat, ntah ntar bakal bener ato malah lebih nyiksa gue, gue uda gak peduli.. gue cuma butuh waktu aja buat nyampein ini..
thanks udah bikin susah untuk kesekian kalinya :)

Jumat, 26 April 2013

note-book Adit

Kokok ayam pagi ini semakin mengusik pikiran gue. Memaksa gue buat membuka mata,  memaksa gue buat memandang silau sinar matahari di balik jendela. Memaksa gue buat mengingat realita dan melupakan mimpi indah gue tadi malam. Hari ini gue masih pengen tidur. Gue pengen menghindar dari satu per satu pikiran negatif yang berkelibatan di kepala dan sedikit melupakan beban pikiran yang menurut gue gak pernah ringan.

Hari ini gue punya janji buat nemenin si Tania, sahabat baik gue dari SMP. Sekarang kita udah jadi siswa kelas XI di SMA Bhayu Angkasa Malang. Dan kerennya, sejak SMP pihak sekolah selalu menempatkan kita dalam ruang yang sama, kelas yang sama. Itu juga yang jadi alasan kenapa gue bersahabat baik dengan Tania.

Derrtt..derrtt.. HP gue bunyi dan gue yakin pasti Tania udah nungguin gue. Tanpa perlu membaca apa pesan singkat yang dia kirim, gue langsung cus ke kamar mandi, dandan dan milih baju yang oke. Gak lama setelah itu, gue udah di pinggir jalan nyamperin Tania yang udah masang muka bete karna nungguin gue.

"Sorry Tan, gue baru bangun.. hehe.." Sapa gue.
"Yaudah yuk buruan, udah siang nih." Ajak Tania, sambil menggandeng tangan gue.

Hari ini Tania ngajakin gue beli kado buat pacar barunya, Adit, Aditya Nugraha yang ternyata adalah temen kecil gue dulu di Jakarta. Ntah sejak kapan dia tinggal di Malang dan mengenal Tania. Tapi yang pasti ketemu Adit di umur gue yang udah remaja ini, gak begitu ngaruh dengan ingatan masa kecil yang kocak dan ngangenin.

Gue kenal Adit udah dari kecil, karna kita emang tetangga. Tapi gue mesti pindah ke Malang saat gue baru masuk kelas VIII. Ayah gue mutasi dan pindah kerja ke Malang, terpaksa sekeluarga juga ikut pindah. Dan saat itulah gue kenal Tania. Dunia begitu sempit, dan sekarang gue bisa kumpul bareng sahabat-sahabat baik gue, Tania dan Adit.

"Tis, lo nglamunin apa sih?" ucap Tania yang sontak membuat gue kaget.
"Eh, nggak Tan, gue cuma lagi capek aja, lo sih ngajaknya pagi banget, gue masih ngantuk nih." jawab gue asal.
"Sorry deh Tis, lo tau sendiri kan sahabat lo lagi kasmaran. Hehe.." kata Tania yang tidak mendapat jawaban apapun dari gue. Gue masih gak habis pikir mereka bisa kenal, dan Tania berniat ngenalin gue sama Adit. Gue emang sengaja gak bilang ke Tania kalau kita udah saling kenal, gue takutnya Adit udah lupa sama gue. Secara gak sadar akhirnya gue selalu menghindar kalau Tania lagi bareng sama Adit.

Sepulang dari nemenin Tania, gue iseng bongkar barang-barang bawaan gue dari Jakarta yang masih terbungkus rapi sejak 4 tahun lalu. Gue mendadak inget note-book yang Adit kasih pas gue mau berangkat ke Malang. Tapi belum sempet nemuin note-book itu, Ayah udah teriak-teriak manggil gue dari lantai bawah. Terpaksa gue turun dan nyemperin beliau.


***

"Tisa Syafira?.... Tisa Syafira?" wali kelas gue udah sampai dan lagi mengabsen murid muridnya.
"Permisi. Hadir bu. Maaf bu saya terlambat, saya dari rumah Tania, ini surat izin Tania bu." buru buru gue masuk kelas. Untung wali kelas gue sekarang orangnya super sabar.

Hari ini gue bete banget di sekolah. Temen paling enak buat ngobrol, si Tania pake bolos segala cuma buat nyiapin surprise party buat Adit. Dan akhirnya gue di sekolah cuma nangkring di perpustakaan untuk sekedar baca novel atau cerpen ringan. Untung jam pelajaran hari ini di potong karna gurunya mesti rapat nyiapin Try Out kelas XII. Kan jadinya gue bisa pulang cepet dan gak bete lagi.

"Hey, lo Tisa kan?" ucap pemuda yang tiba tiba muncul di sebelah gue. Dia Adit, dan dia masih inget sama gue. Sontak kejadian ini bener-bener bikin gue speechless, gue tercengang dan gak bisa jawab apa-apa.
"Tis, Tisa?" kedua kalinya Adit manggil gue, dan gue masih diem, tercengang.
"Tis, lo gak inget sama gue? Gue Adit, temen lo dulu." Jelas pemuda tadi.
"Oh, hey, iya gue inget sama loe, masa iya gue lupa. haha" gue mencoba mencairkan suasana. "Lo ngapain disini? Dan sejak kapan lo di Malang? Sombong banget gak ngabarin gue." tanya gue berturut-turut.
"Haha sorry deh Tis, gue bingung mau ngabari lo, gue gak tau rumah lo dan gue gak tau nomor HP lo." Jawab Adit.
"Trus lo ngapain disini?" Tanya gue lagi. Sebenarnya gue bisa nebak dia ngapain, tapi gue cuma pengen memastikan aja.
"Gue mau njemput pacar gue Tis, eh, sorry lo gak tau ya, dia anak SMA sini, kita baru jadian sih, ntar kapan-kapan gue kenalin ke lo ya." Jelas Adit dengan gamblang dan girang. Tebakan gue bener, dia pasti mau nyamperin si Tania, bukan gue.

Sebelum gue pamit pulang ke Adit, kita udah sempet ngobrol banyak. Dan yang pasti kita udah tukeran alamat rumah dan nomor HP. Gue sempet ragu, karna Adit udah ketemu gue, gue takut dia bakal cerita ke Tania tentang -Tisa Syafira- yang sudah jelas adalah sahabat baiknya. Gue pasti bingung gue mesti jelasin apa ke Tania. Tuhan, ku harap Adit masih tutup mulut.

Sepulangnya di rumah, HP gue bunyi, telpon dari Tania. Gue sengaja gak angkat karna gue lagi males ngobrol sama dia mengingat kejadian ketemu Adit pulang sekolah tadi. Tapi ternyata Tania tidak sedikitpun menunjukkan keputus-asaannya menghubungi gue dan gue akhirnya terpaksa buat ngangkat. Tania cerita panjang lebar tentang kesuksesannya bikin surprise-party buat Adit. Gue lega, setidaknya Adit sama sekali tidak menceritakan masa lalunya ke Tania.

Munculnya Adit sukses buat gue berhari-hari ngegalau. Gue takut salah paham sama Tania. tapi gue juga ogah buat cerita tentang Adit ke Tania. Gue jadi inget sesuatu, note-book dari Adit. Gue berusaha beranjak dari kasur dan mulai bongkar muatan lagi. Yah barang-barang gue di Jakarta dulu. Gue udah nyoba buat bongkar semua isi kardus, tapi gue masih belum nemuin dimana note-book itu. Sejak 4 tahun lalu gue masih belum berani buat buka dan baca apa isi note-book Adit. Dan hari ini gue bener-bener di bikin penasaran.

Derrttt...dertt... HP gue bunyi. -Tis lo ngapain, bsk lo ada acara? jln yuk- Pesan singkat dari Adit. Gue lagi-lagi tercengang, jantung gue berdetak dua kali lebih cepat. satu jam berlalu gue masih belum nemuin jawaban yang pas buat sms Adit. Hingga akhirnya dia nelpon gue. dan gue setuju buat jalan sama dia.

Keesokan harinya gue beneran di jemput sama Adit. Kita jalan bareng, dan Adit banyak cerita tentang Tania. Sebenernya gue lega karna gue bisa jalan bareng sahabat karib gue. Tapi gue juga takut kalau Tania salah paham tentang ini. Akhirnya gue memberanikan diri buat cerita ke Adit perihal persahabatan gue dengan Tania. How shocked I am! Tanpa gue cerita pun Adit udah tau, apa Tania yang cerita? Gue bener-bener gak ngerti.

Ternyata setahun belakangan ini, semenjak pindah ke Malang, Adit gemar sekali mengorek informasi tentang gue. Dimana gue tinggal, dimana gue sekolah, dan dengan siapa gue bergaul, dia udah tau semua dan gue baru tau akhir-akhir ini kalau dia ada di Malang.

Adit bener-bener sosok yang gak gampang di tebak, persis seperti saat kita di Jakarta. Dia sama sekali tidak berubah. "Andai lo tau Dit gue disini ngangenin lo dan lo diem-diem merhatiin gue tanpa gue tau" ucap gue dalam hati.

***

Dirumah gue sengaja ngacak-ngacak kamar buat nyariin note-book dari Adit. Dan gue inget, note-book itu ada di lemari, di bawah tumpukan pakaian gue. Gue lega bisa nemu note-book ini. Awalnya gue ragu buat baca apa isi tulisan Adit. Tapi rasa penasaran gue telah mengalahkan semua.




Jkt, 12 Maret 2007
Dear Tisa,
Hay Tis, ini pertama kalinya gue nulis di note-book ini, note-book pemberian lo, kado ulang tahun gue dari lo. Thanks ya Tis. hehe.. Gue bakal banyak nulis Tis, karna disini gue bisa cerita apapun yang pengen gue ceritain ke lo tapi gak bisa gue ungkapin.



Jkt, 22 Oktober 2007
Dear Tisa,
Hari ini gue seneng banget Tis, thanks udah ngajakin gue jalan seharian. Gue emang cemen Tis, gue gak pernah berani buat bilang kalo gue suka sama lo. Tapi senggaknya gue selalu seneng karna kita bisa bareng terus sampe sekarang Tis. Tetaplah jadi sahabat gue.


Jkt, 24 Mei 2008
Dear Tisa,
Hari ini gue sedih banget Tis, kenapa lo mau ninggalin gue, kenapa lo mau pindah? Tis, bahkan gue masih belum bisa ngelepas predikat cemen gue, gue belum bilang ke lo kalo gue suka sama lo, sayang sama lo. Tis, jangan pernah anggep remeh tulisan gue. Ini bener-bener apa yang gue rasain. gak peduli lo mikir apapun, bahkan saat lo nganggep ini cuma ocehan anak kecil yang lagi cinta monyet. Lo inget ya Tis, ntar kalau kita bisa ketemu lagi, gue bakal tetep sayang sama lo, dan gue janji gue gak bakal cemen lagi. Lo baik-baik ya Tis di Malang.. Gonna miss you my friend :)



Lagi-lagi gue tercengang, gue kaget, tapi gue juga bingung. Apa maunya si Adit? Dan Adit bener, gue emang mikir itu cuma celotehan anak kecil yang lagi cinta monyet. Terang saja, Adit setahun ini nyari informasi tentang gue, tapi dia jadian sama sahabat gue sendiri. Gue bener-bener bingung. Gue memutuskan buat ngehubungi Adit, ngajakin dia jalan esok harinya. Dan Adit menyanggupi.

***

"Dit, sorry, gue baru baca note-book ini." tanpa pikir panjang gue langsung menuju ke topik pembicaraan yang pengen gue tanyain. "Lo masih inget kan? Harusnya gue baca ini dari dulu, ngabari lo kalo gue bakal nunggu waktu yang lo maksud itu. Tapi kayanya semua udah telat Dit, lo kayanya udah ngelupain, dan lo pasti sekarang udah bahagia sama Tania. Sorry Dit lo harus tau kalo gue juga sayang sama lo, dari dulu." jelas gue dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Adit masih diam, ia terlihat berfikir, tapi sulit untuk menebak apa isi pikirannya. Gue masih menunggu, menunggu apa jawaban yang akan di berikan Adit. dua-lima menit berlalu tanpa suara apapun. Gue mulai bingung, gue mulai gak tenang.

"Tis, lo jangan pernah nyalahin diri sendiri, ini semua bukan salah lo. Ini salah gue, harusnya gue bisa lebih sabar. Tapi semua berubah saat gue kenal Tania. Gue mulai suka, dan gue mulai putus asa buat ngumpulin keberanian ngungkapin perasaan ke lo Tis. Gue bodoh, gue bilang bener-bener sayang sama lo tapi gue gak bisa bertahan sama omongan gue. Tis, gue masih sayang sama lo, gue bener-bener sayang, lo boleh percaya boleh gak. Perasaan gue ke lo gak pernah berubah, yang berubah hanya keberanian gue. Mudah buat bilang kalo gue suka sama tania, tapi gak mudah buat bilang gue sayang sama lo Tis. Gue sayang sama lo dan gue bakal ngelakuin apapun buat nebus salah gue." jelas Adit.

"Dit, lo gak perlu ngelakuin apa-apa. Bahagiain Tania selayaknya lo bahagiain gue. Tania sahabat gue, gue gak bakal rela dia disakiti. Asal Tania bahagia gue juga pasti bahagia Dit. Selamat ya. Jangan pernah merasa bersalah. Kita tidak punya kuasa apapun buat menentang takdir. Semoga lo bahagia Dit, gue sayang sama lo." ucap gue ikhlas sembari meninggalkan Adit dan note-booknya.